Tampilkan postingan dengan label Human Interest. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Human Interest. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Mei 2018

,
                                                           Dokumentasi Pribadi
Muhammad Jaini, biasa di panggil Jae adalah seorang pelajar Madrasah Negeri 4 Karawang. Berbeda dari kawan sebayanya, Jae harus berjualan tisu sepulang sekolah demi menghidupi keluarganya karena Jae merupakan tulang punggung keluarga.

Setiap harinya, untuk sampai ke tempat berjualan Jae harus menempuh kurang lebih 7 Km yang bertempat tinggal di Kedung Waringin.

Remaja 15 tahun ini mengaku telah berjualan selama 8 tahun dan kerap berpindah-pindah tempat. “Awalnya di stasiun bekasi, tapi banyak razia jadi pindah.” Ujarnya.
“Kadang suka sedih melihat teman-teman pulang sekolah langsung pulang kerumahnya, kalau saya harus jualan dulu, tapi mau gimana lagi saya ikhlas.” Tambahnya.

Banyak orang yang salut melihat kegigihan Jae dalam memenuhi kebutuhan keluarganya, meskipun dengan keterbatasan biaya Jae memiliki cita-cita menjadi Pegawai Negeri dan akan melanjutkan studinya ke jenjang selanjutnya.

Jae adalah sosok inspirasi bagi muda-mudi masa kini. Keterbatasan tidak menghalanginya untuk bersekolah sekaligus mengabdi kepada kedua orangtuanya. 


(Tiara Mauliana)

Rabu, 16 Mei 2018

,
                                                             Dokumentasi Pribadi
Diusianya yang senja, Senu masih bersemangat dalam mencari nafkah, untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, ia menjadi kuli penjual rempah-rempah seperti, bawang, jahe, dan kunyit. Ditemui di lapak dagangan nya, pasar kaget dekat GaluhMas. Saat ia sedang melayani pembeli, katanya dengan upah 30ribu rupiah perhari serta jam kerja yang terkadang membuatnya menginap di emperan ruko, ia ikhlas mejalaninya.

“pernah tidak pulang selama dua hari, karena jualannya belum habis.” Ucapnya saat ditanya oleh kami. Panas terik yang menyapu Karawang siang ini pun tidak meyurutkan niatnya dalam berjualan, ia tetap semangat di sela-sela tubuh rentanya.

Bapak dari 3 anak ini mengaku bertempat tinggal di daerah Loji, Dan akan pulang jika uang yang dicarinya sudah terkumpul. Dalam upahnya ia bagi, untuk dirinya makan dalam sehari sebanyak sepuluh ribu rupiah dan untuk dikumpulkan sebanyak duapuluhribu rupiah.

Nominal yang cukup sedikit untuk tinggal di Kota berkembang seperti Karawang, untuk itulah kita bisa memetik hikmah dari kisah Kakek Senu, “Disyukurin saja neng, Rezeki Allah yang atur. Ikhlas” tuturnya. Dengan bersyukur segala yang kita kira tak cukup akan menjadi cukup, dengan berusaha hal yang kita kira tak tergapai akan tergapai.


                                                                                                                                     (Rivani Nur Rizki)
Aku tidak melatih mahasiswaku menulis lamaran pekerjaan, tapi akan ku latih mereka menulis menciptakan suatu karya untuk membuka lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri. -Mickey Oxcygentri